Selasa, 20 September 2011

Ekstrakulikuler

Potensi Siswa

Ekstrakurikuler di sekolah seakan berada dalam dua sisi mata uang. Disatu sisi keberadaannya diperlukan siswa sebagai media untuk mengembangkan potensi diri, selain itu diharapkan mampu mengangkat dan mengharaumkan nama sekolah dengan prestasinya. Namun di sisi lain justru menjadi penyebab menurunnya nilai siswa dan bukan tidak mungkin hanya menjadi formalitas saja untuk mencari keuntungan.

Kenyataan di lapangan memang menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mendapat proporsi yang tidak seimbang, kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung disepelekan. Perhatian sekolah-sekolah juga masih kurang serius, hal ini terlihat dari kurangnya dukungan yang memadai baik dari segi dana, perencanaan, dan pelaksanaan, serta perannya sebagai bagian dari evaluasi keberhasilan siswa.

Padahal dikalangan siswa, banyak proses aktualisasi potensi siswa yang terjadi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Misalnya aktualisasi tentang kepemimpinan, kesenian, olahraga, kepekaan sosial, nilai religius, dan sebagainya sering muncul ketika ekstrakurikuler. Jika dilihat secara mendalam, maka ada bebarapa manfaat mengukuti ektrakurikuler. Pertama, dapat mengakomodasi keragaman kecerdasan dan potensi siswa. Kedua, lebih mendekatkan pendidikan pada dunia riil. Ketiga, memiliki fleksibilitas yang tinggi dari segi program dan kurikulum. Keempat, pendidikan dilaksanakan secara menarik dan menyenangkan.

Perlu diluruskan lagi bahwa kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual (IQ) saja, tetapi juga dilihat kecerdasan emosionalnya (EQ), kecerdasan kreativitasnya (CQ), dan kecerdasan religiusnya (RQ). Keberagaman kecerdasan ini sangat mungkin tidak terakomodasi selama proses pembelajaran. Sekolah hanya mengutamakan pencapaian logical dan mathematical intelegence. Padahal potensi anak beragam.

Dengan demikian pemahaman dan pengelolaan ektrakurikuler yang baik akan membentuk siswa yang kreatif, inovatif, dan beradab. Memang, pada sekolah tertentu pengelolaan ekstrakurikuler belum menunjukkan hasil yang maksimal. Bahkan menimbulkan keprihatinan dan korban jiwa. Hal ini bukan tampa sebab. Kadang kala ekstrakulikuler menjadi ajang balam dendam bagi kakak-kakak senior kepada junior. Ini sudah tidak aneh lagi, apalagi jika berlaku undang-undang Senioritas ; pertama, senior selalu benar. Kedua, junior selalu salah. Ketiga, jika senior salah maka kembali ke pasal pertama. Kalau sudah begini, wah repot.

Tentunya hal ini yang perlu dibenahi. Sekolah sekarang jangan hanya buat program ekstrakulikuler tetapi juga melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Menjadikan ekstrakerikuler sebagai salah satu andalan sekolah bukanlah persoalan mudah. Banyak hal yang harus dibenahi.

Konferensi anak-anak sedunia di Gerenoble, Prancis tahun 1993 menyimpulkan bahwa kurikulum pendidikan formal memiliki kemampuan terbatas untuk menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konferensi ini juga merekomendasikan konsep pendidikan sains di luar sekolah melalui kegiatan-kegiatan ilmiah di luar sekolah.

Hal tersebut membuat kulikulum formal menjadi terbatasi oleh birokrasi dan penjabwalan kegiatan yang terlambat. Akibatnya tidak seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi. Kondisi inilah yang sebenarnya dapat ditutupi oleh kegiatan ektrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler tidak seperti penjabwalan di dalam kelas. Pembuatan programnya pun terbilang mudah dan tidak serumit kurikulum formal. Program penyelenggaraan ekstrakurikuler dapat bersifat fleksibel sehingga sangat memungkinkan untuk mengadakan pendidikan yang integratif dan multidisiplin.

Ekstrakurikuler membosankan

Ekstrakurikuler sering terdengar membosanakan. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah sebagian besar masih bertumpu pada bentuk kegiatan yang berhubungan dengan penyaluran bakat dan minat siswa, seperti olahraga, kesenian, karya ilmiah, kesehatan, pramuka, pencinta alam, dan lainnya. Ekstrakurikuler masih belum menyentuh pada kegiatan yang mampu mempersiapkan siswa pada dunia kerja atau life skill. Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis dunia kerja sebenarnya dapat dilakukan, seperti ekstrakurikuler wirausaha, otomotif, tata busana, tata boga, cetak sablon, internet, pengembangan bibit tanaman, pembuatan kolam ikan, pertanian hidroponik, dan lain-lain.

Kegiatan ekstrakurikuler biasanya diikuti oleh siswa yang memang berminat pada kegiatan tersebut. Namun perkembangan psikologis anak di keluarga dan berhubungan dengan teman sepermainan menyebabkan alasan mengikuti ekstrakurikuler tidak lagi berdasarkan pada minat tetapi dapat juga dari faktor teman, misalnya ikut-ikutan saja. Atau juga faktor keluarga, yaitu bosan di rumah atau agar tidak disuruh-suruh di rumah. Maka ekstrakurikuler menjadi alasan yang tepat sebagai jalan keluar, apalagi ramai-ramai dengan teman atau doi, amoi asyiknya.

Fleksibel, itulah yang dapat dilakukan agar ekstrakulikuler tidak membosankan. Pola pelaksanaan yang begitu-gitu saja diganti dengan pola integratif dan multidisiplin serta tidak melupakan fun. Misalnya, jika selama ini ektrakulikuler belum bisa menjadi suatu hal yang dibangggakan berarti ada yang salah. Atau sekedar menghabiskan anggaran biaya. Tentunya harus dirubah. Jika senior tidak bisa membimbing juniornya, maka ganti dengan tenaga yang memang ahli. Bayangkan selama 07.30-14.00 pelajaran wajib berlangsung, siswa bertemu dengan teman-teman sepermainan. Ketika ektrakulikuler juga demikian. Apalagi mereka tahu kualitas senior sehingga apresiasi mereka kurang. Mengapa tidak untuk mengambil dari luar sekolah atau instansi lain yang memang benar-benar berkualitas. Menciptakan pola kerja sama dengan instansi atau lembaga lain menjadi solusi. Ingat, serahkanlah pada ahlinya jika tidak tunggulah kehancurannya.

Keuntungan Sesaat

Yang lebih parah adalah adanya oknum-oknum guru yang mengambil keuntungan dari ekstrakulikuler. Penulis tidak tahu persis berapa anggaran tiap sekolah untuk kegiatan ekstrakulikulernya. Yang jelas, untuk yang satu ini biasanya ada dana pembinaan ataupun pengembangan diri. Walaupun tidak terlalu besar, namun yang namanya uang tetap saja berguna. Misalkan jika dalam satu semester program berjalan untuk kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan sebanyak 10-12 pertemuan namun hanya dilaksanakan 2 atau 3 saja, tentu ini merugikan bagi siswa. Apalagi jika tidak dilaksanakan sama sekali.

Anehnya, oknum guru seperti ini santai saja seolah tidak tidak terjadi apa-apa. Malah ia berusaha mencari kambing hitam kepada siswa seolah mereka yang tidak aktif. Si guru tidak sadar bahwa ia telah menghilangkan kesempatan siswa untuk mengembangkan diri. Jika demikian bagaimana mau menghasilkan prestasi untuk membanggakan dan mengharumkan nama sekolah Tentunya yang begini ini yang harus direformasi.

Alangkan adilnya jika tidak hanya senior yang memberikan materi tetapi juga bersinergi dengan guru dan siswa untuk melaksanakan ekstrakulikuler. Dari sini juga guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk mengembangkan potensi diri. Bagi guru yang jeli, ia dapat juga melihat seberapa besar apresiasi siswa terhadap proses belajar mengajar dengan kegiatan ektrakulikuler. Jika siswa terlalu asik dengan ekstrakulikuler maka guru dapat mengingatkan bahwa jangan meninggalkan hal yang wajib. Atau juga guru memberikan motivasi pengembangan diri bagai siswa yang kesulitan belajar melalui kegiatan ekstrakulikuler. Sehingga orang tua tidak perlu khawatir jika anaknya terlalu asik dengan ektrakulikuler nilainya akan jatuh karena guru mengawasi secara langsung.

Jika ini mampu dilakukan guru maka ia berarti mampu mengembangkan 10 kompetensi guru secara baik. Terlebih dalam UU Sisdiknas No. 22/2003 terutama pasal 58 tentang evaluasi. Disebutkan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Inilah yang membuat profesi guru menjadi unik, ia tidak saja mengajar tetapi juga membimbing dan mengarahkan siswa.

Tidak ada komentar: